banner 728x250

Mahasiswi di Sekupang Meninggal Saat Susun Skripsi, Dosen Kepri Soroti Tekanan Tugas Akhir

banner 120x600
banner 468x60

Batam — Kabar duka datang dari kawasan Sekupang, Batam. Seorang perempuan dewasa ditemukan meninggal dunia di kediamannya di Komplek Junior Quarter, Kelurahan Sungai Harapan, Kecamatan Sekupang, Rabu, 23 September 2026 sekitar pukul 14.15 WIB.

Korban diketahui sedang menempuh tahap akhir perkuliahan dan tengah menyelesaikan skripsi. Peristiwa itu kali pertama diketahui ketika seorang teman korban mendatangi rumahnya. Teman tersebut hendak menyampaikan informasi soal jadwal sidang skripsi korban yang sebelumnya dijadwalkan ulang. Sebelum datang, ia sempat menghubungi korban lewat WhatsApp.

banner 325x300

Namun, pesan dan panggilan itu tak mendapat respons. Setibanya di lokasi, sang teman menemukan korban dalam kondisi tidak sadarkan diri di bagian belakang rumah. Baca juga: Tak Perlu 10.000 Langkah, 3.000 Langkah Sehari Sudah Cukup untuk Jantung Sehat Polsek Sekupang bersama Tim Inafis Polresta Barelang langsung melakukan pemeriksaan di lokasi. Korban kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Polda Kepri Batam untuk penanganan lebih lanjut.

Kapolsek Sekupang Kompol Hippal Tua Sirait memastikan pihaknya masih mendalami rangkaian peristiwa tersebut. Ia mengimbau masyarakat tidak terburu-buru menarik kesimpulan.

“Kami mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab peristiwa ini. Setiap informasi yang berkembang akan kami telusuri dan ditangani sesuai prosedur,” ujar Hippal, Jumat, 25 September 2026.

Polisi telah memeriksa sejumlah saksi, mendokumentasikan lokasi kejadian, dan berkoordinasi dengan Tim Inafis. Berdasarkan keterangan awal, korban sedang menjalani proses penyelesaian tugas akhir dan disebut mengalami sejumlah revisi. Meski begitu, polisi belum menyimpulkan kondisi tersebut sebagai penyebab meninggalnya korban.

“Kami masih melakukan pemeriksaan dan pendalaman. Untuk penyebab pasti meninggalnya korban, kami menunggu hasil pemeriksaan dan proses penanganan lebih lanjut,” kata Hippal. Di tengah proses penyelidikan, sejumlah dosen di Kepulauan Riau menyoroti pentingnya pola bimbingan yang lebih fleksibel dan dukungan sosial bagi mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir.

Dosen Sistem Informasi, Cosmas Eko Suharyanto, menilai karakteristik mahasiswa di Batam perlu menjadi perhatian serius dalam proses bimbingan skripsi. Menurutnya, banyak mahasiswa di Batam yang juga bekerja, sehingga persoalan waktu sering menjadi kendala utama.

“Memang harus dipahami situasi mahasiswa di Kota Batam. Karakter mahasiswa di Batam berbeda, umumnya mahasiswa juga bekerja, oleh karena itu biasanya yang menjadi kesulitan ketika bimbingan skripsi adalah jadwal atau waktu bimbingan,” ujar Cosmas kepada batamnews.co.id, Jumat, 25 September 2026.

Ia menilai dosen perlu menciptakan sistem bimbingan yang lebih fleksibel, salah satunya melalui metode hybrid. Mahasiswa bisa mengunggah materi atau perkembangan skripsi ke penyimpanan cloud, sehingga dosen dapat memeriksa lebih dulu sebelum pertemuan tatap muka atau via Zoom. Dengan begitu, waktu pertemuan bisa dimanfaatkan untuk membahas persoalan yang lebih substansial. “Dosen harus lebih fleksibel waktunya mengingat karakter mahasiswa di Batam; mudah ditemui, komunikatif, memberi arah,” katanya.

Cosmas juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menghadapi proses penyelesaian skripsi seorang diri. Ia menyarankan mahasiswa memberi tahu orang terdekat—orang tua, saudara, atau teman—bahwa mereka sedang berada di tahap akhir perkuliahan. “Ini penting sebagai informasi bagi orang di sekitarnya, bahwa kamu sedang berjuang di garis akhir perkuliahan,” ujarnya. Ia pun menyarankan mahasiswa menyiapkan diri sebelum bimbingan dan menetapkan target yang jelas usai bertemu dosen pembimbing. Dosen Sosiologi Teguh Setiandika Igiasi menegaskan persoalan seseorang yang memilih mengakhiri hidup tidak bisa dilihat dari satu aspek saja. Berbagai aktivitas dan kondisi sosial yang dialami seseorang dalam kurun waktu tertentu turut memengaruhi kondisi individu. “Benar akan ditemukan fakta sedang menyusun skripsi dan mengalami kesulitan karena itu, tapi tidak sebagai aspek tunggal dorongan untuk mengakhiri hidup. Karena secara sosial, individu tidak hanya menjalani satu aspek itu saja,” kata Teguh.

Dari perspektif sosiologi, ia menjelaskan persoalan tersebut berkaitan dengan hubungan individu dengan lingkungan sosialnya. Karena itu, kepedulian terhadap kondisi orang lain menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan. “Maka, langkah pencegahan yang terbaik adalah bagaimana kita secara sosial mulai peduli, bukan kepo, akan hidup orang yang kita kenal,” ujarnya. Teguh menilai mahasiswa sebaiknya tidak menjalani persoalan hidup seorang diri, termasuk saat menghadapi kesulitan skripsi. Mereka perlu melibatkan orang-orang di sekitar dan menjadikan dosen pembimbing sebagai partner diskusi, bukan sosok yang ditakuti. “Pencegahan terbaik adalah dengan mulai melibatkan banyak pihak dalam menjalani hidup, termasuk menyelesaikan skripsi. Menjadikan pembimbing sebagai partner diskusi bukan momok menakutkan,” katanya.

Ia menambahkan, perbedaan pandangan antara mahasiswa dan dosen dalam proses penyusunan skripsi semestinya ditempatkan sebagai bagian dari proses akademik, bukan hambatan yang membuat mahasiswa merasa sendirian. “Sehingga, apapun perbedaan pandangan dalam penyusunan skripsi menjadi proses penyelesaian kegiatan, bukan proses penghambat,” ujarnya.

Teguh juga menekankan tekanan yang dialami mahasiswa bisa berbeda-beda tergantung tahapan perkuliahan dan kondisi sosial yang menyertainya. Kesulitan menyusun skripsi, kata dia, bisa menjadi salah satu pendorong, tetapi bukan faktor tunggal. “Kesulitan menyusun skripsi bisa menjadi satu pendorong, tapi yang harus digarisbawahi bahwa itu bukan faktor pendorong tunggal,” katanya. Menurutnya, sikap terlalu menekan maupun mengabaikan kondisi seseorang dapat berdampak pada kondisi sosial dan psikologis individu.

“Praktik mengakhiri hidup itu sebab dan dampaknya tidak individual kalau dalam pandangan sosiologi. Maksudnya sebabnya bisa dari banyak aspek, dampaknya pun bisa ke banyak aspek,” ujarnya. Ia mengajak lingkungan kampus, keluarga, teman, dan orang-orang terdekat membangun komunikasi yang lebih terbuka dengan mahasiswa, khususnya mereka yang berada di tahap akhir perkuliahan. Peristiwa meninggalnya mahasiswi di Sekupang masih dalam penanganan kepolisian. Polisi belum menyimpulkan penyebab pasti dan terus melakukan pemeriksaan serta pendalaman terhadap sejumlah informasi dan saksi.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *